Minggu, 16 Agustus 2020

Pahawan Pandemi

Malam tirakatan 17 Agustus 2020 berjalan khidmat. Lentera kecil menghiasi balai dusun. Obor obor para pemuda mulai dinyaakan dan dibawa keliling kampung sembari meneriakkan " merdeka" . Bambu besar dan panjang tegap berdiri, diujungya terdapat api , seperti obor raksasa.Sesekali para pemuda memakai tangga untuk menyulut dan membesarkan api yang kian redup. Ah, itu rekoso dan sangat ribet karna obor raksasa itu jumlahnya banyak.  Jadi was was dan miris melihat mereka memanjat. Nuansa musik gamelan klasik terdengar memecah suasana malam yang gelap dan tenang. Dusun kecil yang jauh dari keramaian. Tingkat ekonomi masyarakat menengah kebawah, dan tingkat pendidikan sedang dalam proses tumbuh beberapa  calon sarjana. Gotong royong dan rasa  ewuh pekewuh yang masih sangat kental, membuat segala bentuk kegiatan terwujud,walaupun dana yang sangat terbatas . warga berbondong bondong datang ke Balai Dusun untuk menyemarakkan lomba .Ada yang berniat untuk menonton saja. Protokol kesehatan juga telah disosialisasikan,namun banyak orang yang melanggar. Kerumunan dan lepas masker tak dapat di hindari. Balai dusun yang kecil telah dipadati banyak orang. Acara rutin jelang hari kemerdekaan ini seolah menjadi hal penting untuk dipikirkan dan tetap diadakan. Namun ditengah Pandemi covid 19, mungkinkah?
Tak menyurutkan keberanian pemuda dusun kami, buktinya peringatan tetap terlaksana. Bahkan telah terprogram rangkaian panjang kegiatan mulai dari lomba ketangkasan anak anak ,bal balan sarung, voli layar dan juga rias pasangan telah diadakan. Ibu ibu juga telah mengeluarkan kadegdayan mereka dalam bidang lomba masak memasak. Sekilas memang sebuah pelanggaran protokol, namun sejatinya adalah pengorbanan yang luar biasa.  Pemuda pemudi dusun merelakan waktu,pikiran dan tenaganya. Bahkan mereka tidak pulang ,saking banyaknya persiapan dan maratonnya kegiatan sore dan malam, tambah berdagang makanan kecil pula. Itu sih cerdas,namun betul betul butuh kerja keras. 
Dimana bumi dipijak ,disitu langit di jinjing. Apresiasi besar buat mereka karna mau memikirkan kemajuan kampungnya. Tak hanya alasan itu, tapi sejatiny karna mereka rindu.
Rindu dengan keadaan normal yang dulu pernah mereka rasakan. Kegiatan ini seolah menjadi tempat pelarian anak anak yang lelah belajar daring. Bahkan lebih lelah orang tuanya karna selama pandemi covid , mereka harus alih profesi sebagai guru. Terlihat pula bahwa pemuda pemudi ini bangga dengan negerinya. Wibawa hari 17 itu seolah menancap dipikiran mereka, dan membawa mereka bangkit dan berkreasi. 
Ya Rab, ..... Negeri kami sedang sakit, maka sembuhkanlah  dengan kuasaMu . Tepuk pundak pemuda pemudi bangsa, agar mereka yakin dan teguh dalam berjuang. Beri harapan pada mereka bahwa negeri ini akan pulih dan selamat. 
Aamiin.


Ngringin 16 Agustus 2020.
#Penulis hati#
Mbakarisusana@gmail.com

4 komentar:

  1. Waaw..luar biasa te..keren..

    Aamiin.. Smg negri ini sgra terbebas dari sakit ini..

    BalasHapus
  2. Waaw..luar biasa te..keren..

    Aamiin.. Smg negri ini sgra terbebas dari sakit ini..

    BalasHapus
  3. Waaw..luar biasa te..keren..

    Aamiin.. Smg negri ini sgra terbebas dari sakit ini..

    BalasHapus

BACALAH SEKITARMU

Ketika pikiran mulai tak berimbang. Persepsi sudah disalah arti. Kukira orang paham,namun ternyata sulit mengerti. Berada diatas setir kenda...