Senin, 29 Maret 2021

BACALAH SEKITARMU

Ketika pikiran mulai tak berimbang.
Persepsi sudah disalah arti.
Kukira orang paham,namun ternyata sulit mengerti.

Berada diatas setir kendali,mengemudi sepenuh hati, ikhlas ,sabar, menahan keinginan individu karna berdiri diatas kata bijaksana.

Namun, hati sedang pada titik keluh.
Lelah. Jemu. Masih takut bilang jera.
Belajar belum selesai.
Baca belum tuntas.
Kelapangan hati perlu diperluas.

Namanya juga orang banyak.
Apa sebab nya orang banyak iyu susah diatur?
Karna latar belakang pendidikannya beda,makanya pola pikirnya beda.

Seberapa penting pendidikan?
Adalah orang yang hidup dilingkungan akademik. Intelejensi dan akademiknya terbentuk bersamaan dengan lingkungan pergaulan


Minggu, 21 Februari 2021

Indah...Bahagia...

Ini rumahku. Bagian paling indah dari rumahku...yaa dapurku.
Duduk santai sambil mengiris sayuran dan meracik bumbu.
Pawon untuk perapian yang siap mendidihkan air , meski dengan panci ukuran paling besar. Asap mengepul yang sesekali membuat tersedak saat apinya mati dan harus dinyalakan memang itulah yang membuat tempat ini semakin hangat dan nyaman.
Lemari perabot berbentuk kotak besar adalah hasil buah tangan almarhum ayahku masih awet sampai sekarang. Apa saja bisa masuk dan sangat bermanfaat.
Dinding separoh batu bata dan separuh keatas adalah anyaman bambu memang membuat asri.
Tercantel kalender dimana kita sering melihat,saling bertanya, atau merencanakan sesuatu dengan keluarga saat kami duduk dan minum teh bersama. Dulu kakekku suka menyelip kan kalender seperti itu , gambar nya pak Sukarno atau ibu Megawati. Tersirat bahwa kakek seorang nasionalis.
Meracik bahan masakan disini sangat menyenangkan. Oseng pare kesukaanku, 15 menit pasti sudah matang. Aroma bumbu yang ditumis, dengan cabe dan tempe semangit itu membuat lapar.
Dua tungku menyala pelan, suara minyak mendidih mengubah sesuatu menjadi kuning keemasan. Kompor yang handal ,patner kerja yang setia.
Selendang ayunan putriku terikat kuat diatap bambu. Dia suka memakainya saat kami berkumpul , dan aku menyuapinya. Lagu lagunya yang indah mengiringi ibunya menuntaskan tugas dapur yang melelahkan tapi menyenangkan.

# Sunday in the kitchen#
# baiti jannati#
# happy family #


#

Senin, 15 Februari 2021

pagi...

Saya bersiap wfo di sekolah.
Pinggang yang barusan sakit 5 harinlalu berangsur sembuh.
Tak tau alasannya,
Diinjak anak anak, hingga saya keenakan?
Atau mereka pakai prosotan?
Atau reaksi saya banyak makan cabe?
Banyak duduk dilantai saat wfh daring?
Rasanya iya.

Entahlah 100 RB Sudh menyembuhkannya.
Kata Dokter infeksi, infeksi apa?

Suami peduli sekali, mungkin takut kalau ini penyakit serius.
Semoga tidak.

Jumat, 05 Februari 2021

Tombo lelah

Elingo dak hasil ilmu Anging nem perkoro

Artinya Ingatlah ,keberhasilan ilmu itu ada 6 syaratnya

Rupane limpat, lubo, Sobar, Ono sangune,lan piwulange guru, LAN sing suwe mangsane

Artinya limpat itu selalu memperhatikan keterangan / informasi dari guru.
Anak cerdas tapi mbeling itu kurang baik,
Mending anak pendiam / pemerhati tapi kurang cerdas.
Anak memperhatikan guru, itu akan mendapatkan keberkahan ilmu. Masuk kedalam pikiran dan hatinya, sehingga betul betul ilmuya melekat dan tertancap dengan benar.

Lubo artinya cinta terhadap mata pelajaran. Apapun yang sedang dihadapi harus dicintai, agar membuka jalan pemahaman.

Sobar/ sabar artinya tahan uji. Tidak mudah menyerah. Mampu menahan diri dari hal yang seharusnya tidak dilakukan, seperti bermain saat jam belajar,tidur sebelum waktunya dan makan sampai berlebihan.

Ono sangune artinya cari ilmu itu ada bekal yang cukup dan halal. Uang banyak kalau tidak halal, maka akan menjadi penghalang keberkahan.

Piwulange guru artinya ada yang ngajar.... Ya guru.
Tapi apa artinya guru jika tak ada murid. Guru an murid saling membutuhkan.

LAN sing suwe mangsane
Artinya butuh waktu lama untuk mencari ilmu. Tidak ada yang instan.

# semangat.




Rabu, 11 November 2020

Meningkatkan Pemahaman Materi Qada Qadar

Selamat Pagi, Salam Literasi...
"Dalang ora kewuhan Lakon".
Pepatah Jawa ini sering memotivasi saya tatkala saya kehilangan ide mempersiapkan skenario pembelajaran.
Materi Qada dan Qadar, biasa saya sampaikan dengan model ceramah saja, apa arti, apa saja macamnya takdir, contoh perilaku beriman pada takdir, hikmah dan sebagainya.
Setelah itu siswa saya perintahkan untuk diskusi ,presentasi dan ulangan.
Hari ini saya membuka - buka laptop dan menemukan sebuah cerita kisah dan hikmah. Cerita tersebut tulisan anak SMA di suatu daerah. Dia menceritakan saat dia menghadapi ajang lomba. Cemas menanti menang atau kalah dan mengambil hikmah dari hasil yang ia terima.
Saya copy teks cerita itu kemudian saya rapikan di word.
Saya fowardkan ke siswa dan saya tambahkan keterangan agar siswa membuat cerita serupa.
Saya ingin mengetahui cerita mereka, pernahkah meraka dekat dengan Allah saat senang atau saat sedih. Semoga mereka dapat memahami pentingnya ikhtiar dan tawakal sesudahnya.

Hari pengumpulan yang saya tentukan sudah tiba.
Mereka mengumpulkan tugas satu persatu. Ada yang diketik, ada ya g ditulis tangan biasa. Setelah ceklist pengumpulan selesai, saya mulai membaca tulisan siswa yang mengumpulkan pertama kali.
Namanya Andika. Dia menceritakan tentang pemgalamannyaengikuti game online. Dia optimis dan sedikit besar kepala untuk memastikan kemenangannya. Hasilnya tidak sesuai yang diharapkan , dia kalah.
Dia mengambil hikmah bahwa kekalahannya disebabkan karena kesombongannya. Diakhir ceritanya dia bilang
diatas langit masih ada langit, sepandai apapun saya kalau Allah belum ijinkan maka saya tidak akan berhasil.

Satu karya yang bagus, melebihi dugaan saya. Saya heran, seorang anak yang suka tidur dikelas, susah diajak komunikasi verbal, bawaannya malas mengerjakan tugas,ternyata mampu membuat tulisan yang mengesankan.
Saya berharap ,tulisan yang lain tidak kalah bagusnya.
#siswasenang, gurusenang#

#Day7AISEIWritingChallenge

Minggu, 01 November 2020

TUGAS PAI MATERI PERAWATAN JENAZAH BAGI KORBAN COVID 19

1. Baca LKS tentang Materi Perawatan Jenazah Berikut Materi perawatan Jenazah , jika yang meninggal adalah penderita /korban Covid 19 Fatwa MUI tentang pengurusan jenazah corona 

1. Petugas adalah petugas muslim yang mengurusi jenazah 
2. Sahid akhirat adalah muslim karna wabah, tenggelam, terbakar, melahirkan dengan niat ibadahnya karna Allah SWT. 
Bagi yang terkena wabah korona, dalam sunah dia dilarah untuk berpindah dari tempat itu agar tidak menyebar. 
Dia tetap ditempat dan bersabar, maka jika dia wafat karna virus itu maka akan dicatat sebagai syahid. Orang yang mengantar ke kuburan sepi, Yang wafat sakit, Allah mengangkat drajadnya. 
Jangan bersedih, ini adalah kabar gembira.
Perjuangan tersebut diapresiasi oleh Allah 
3. APD, Alat pelindung Diri oleh petugas harus digunakan 
4. Fatwa MUI No 14 th 2020, angka 7. 
Menetapkan : Memandikan dan mengkafani harus dengan protokol dan sesuai syariat 
Umat Islam yang terpapar adalah syahid akhirat, tapi hak haknya wajib dipenuhi yaitu dimandikan, dikafani, disolati dan dikuburkan yang pelaksanaannya wajib mempoerhatikan keselamatan petugas. 
 Fatwa memandikan Korban Covid: Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya .
Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah 
Jika petugas tidak berjenis kelamin sama, maka ditayamumkan saja 

Petugas membersihkan najis dahulu sebelum memandikan Petugas memandikan dengan cara mengucurkan air saja merata, tanpa memijat 
 Jika jenazah tidak mungkin dimandikan karna pertimbangan tertentu , maka ditayamumkan saja. 
Caranya
Mengusap wajah dan tangan dengan debu yang bersih, tetap dengan APD Jika sudah tidak mungkin dimandikan atau ditayamumkan, maka tidak usah diapa-apakan karena situasi darurat. 
 Pedoman Mengkafani jenazah corona : Setelah dimandikan/ tidak dimandikan, maka dikafani dengan kafan yang menutup seluruh tubuh 

Setelahnya dipakaikan plastik/ kantung jenazah, untuk memproteksi agar virus tidak menyebar. 

Dimasukan peti yang tidak tembus air dan udara , posisi dimiringkan ke kanan , menghadap kiblat 
Jika setelah dikafani masih ada najis yang kelihatan maka petugas diminta mengabaikan najis tersebut . 

Pedoman Menyolatkan jenazah Covid Disunahkan menyegerakan. 

Dilakukan ditempat yang aman dari penularan virus Covid Walaupun yang menyolatkan terbatas , tidak menjadi masalah minimal hanya satu orang 

Jika tidak mungkin di tempat tertentu, maka bisa dilakukan di kuburan, atau dilakukan dengan solat ghaib 

 Pedoman menguburkan ; 
Dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis 

Memasukan jenazah ke liang lahat tanpa harus membuka petinya, plastik dan kafan. 
Penguburan dalam satu liang berisi beberapa jenazah diperbolehkan karna dalam keadaan kesulitan tempat/ makam. 

 Jangan sampai kita menilai kedaruratan sebuah kesalahan bagi pengurusan jenazah covid, karana Allah saja sudah mengangkat drajadnya ketempat yang lebih baik. 

Yang merasa takut dengan virus dan khawatir kematian Syarat wafat bukan corona, bukan virus, bukan penyakit
Syaratnya adalah ketika ajal sudah tiba. 
 Situasi ini jangan sampai membuat kita jauh dari Allah .
Dekatkan diri kita dengan ibadah, dengan munajat dan bercengkrama dengan Allah. 
 Jika dengan cara itu, kita tidak bisa dekat, maka biarkan Allah yang membuatkan caranya.

# semangat literasi

Putri kedua

Juli 2017, aku sudah merasa hamil. Suami tak buru buru mengiyakan, karna harapan yang selalu dinanti kadang yang datang tamu yang rutin tiap bulan . Makin hari makin yakin dan bersemangat untuk tes kehamilan. Ternyata benar, aku hamil. Awal kehamilan aku merasa tidak nyaman. Tidak selera makan, badan lemes dan selalu minta perhatian lebih. 
Diusia kehamilan 2 bulan,perut terasa kencang alasannya karna ada kista. Pemeriksaan sebulan kemudian si kista aman dan tidak membesar. 
Usia 6 bulan terdeteksi ada ganguan placenta previa, dipastikan akan mengalami pendarahan. Dokter memberiku rujukan,seandainya pendarahan maka harus ke RSUD. Namun sampai bulan ke tujuh aman aman saja, hanya rasa sakit sepanjang waktu tetap aku rasakan. Bayi menendang nendang adalah momen sangat dinanti, namun bagiku sangat menyiksa. Jika si bayi menendang, aku pringisan kesakitan  keluar keringat dingin dan tak bisa duduk nyaman. Ujian praktik siswa SMA aku simak sambil berbaring di kasur UKS. Dokter mengatakan kondisi bayi sudah mapan, tinggal menunggu saat kelahiran. Tidak percaya kandunganku baik baik saja, aku pindah ke bidan lain. Bidan meraba dengan tangannya. Menekan bagian ulu hati dan perut bawah.Mencengangkan, katanya ada dua kepala. Tinggi perutku diukur dan dibilang tidak normal. Tidak mungkin bayi satu tingginya sedemikian. 
Aku pindah periksa lagi ke dokter spesialis, dan minta USG, kata dokter tidak kembar. 
Satu hari sebelum hpl ,aku mengalami sedikit pendarahan. Apakah ini tanda mau melahirkan??
Kemudian keluar cairan bening, apakah ini ketuban???
Aku periksa ke bidan terdekat,katanya benar cairan itu adalah ketuban merembes. Aku disarankan ke RSUD, agar segera dapat penanganan. Sampai di RSUD, aku disabut para perawat, dokter atau calon dokter yang sedang meneliti tak henti menanyaiku banyak hal sambil mencatat. 
Sudah jam 23.00 ,tapi belum juga ada tanda tanda segera melahirkan.Aku juga tidak merasa kesakitan . Mengingat ketuban sudah merebes, maka harus dipercepat bayi keluar. Diberilah obat pacu di saluran infusku. Jam  satu dini hari aku mulai kesakitan. Sakitnya luar biasa. Berulang kali aku mengedan,tapi tidak juga keluar bayi. 
Sampai pagi, demikian keadaanya. Istighfar dan berteriak tanpa kendali. Ya Allah, saya tidak kuasa menahan sakitnya. Tidak seperti anak pertama dulu, aku hanya menghela nafas dan mengeluh lirih. Kali ini beda. Aku berteriak keras.
Sampai jam 8 pagi, aku sudah puluhan kali mengedan. Dokter praktik silih berganti memberi aba aku mengedan,tapi tak berhasil. Ada dokter yang memintaku untuk memanjat pinggangnya agar aku kuat mengedan, namun tetap saja pertolongannya tak berarti. 
Kepala bayi kelihatan,tapi tetap tak mau turun.
Seorang bidan setengah tua memberi komando, panggilkan mbk Yuli. Mbak Yuli itu bidan juga,hanya saja dia lebih berani berspekulasi.
Seorang wanita yang dipanggil Mbk Yuli itu sigap menekan dan mengurut perutku bagian atas dari ulu hati kebawah. Sementara ibu bidan tua itu memainkan gunting melebarkan jalan lahir. Sepertinya semua bekerja,dan tidak mau kelamaan pada tindakan kali ini. Keluarlah si bayi, sambil batuk tersedak tidak bisa menangis. Teriak para bidan, alhamdulillaaah...
Ada yang takbir. Bidan tua itu memanggil suamiku ," pak-pak, lihat!
Satu,dua,tiga,empat, ....."
Dia menghitung,sambil melepas tali pusat yang melilit leher anakku.
Ya Allah, anakku bertarung nyawa dengan lilitan itu. Semakin keras aku mengedan semakin dia ketarik lehernya. Apalagi saat bidan mengurut perutku,pasti anakku sesak sekali bernafas.
Cewek,dengan berat 2,9 kg itu lahir.
Tak sempat diazani bapaknya, karna kondisi darurat. Dia harus segera mendapatkan perawatan.

Aku lunglai diatas alas yang basah darah dan keringat itu. Kakiku seperti tidak bertulang. 
Bidan Yuli masih menungguiku. Dia menanti ariari bayi yang mestinya menyusul keluar, tapi tidak.
Sudah sepuluh menit, sudah 15menit kok belum keluar. Dimasukan lagi obat pacu di infusku, hingga kemudian aku mengerang kesakitan lagi . Kenapa ini? Kok tidak keluar juga. Bidan Yuli mengambil sarung tangan menyelamkannya ke dalam kantung rahimku, mencari barang yang ditunggu keluar.
"Ada tidak???" Tanya temannya.
"Ada!" Jawab bidan pemberani itu.

Setelah ariari itu keluar, bidan yang lain mengguncang perutku. Mengoyak dengan keras katanya agar darah sisa tak berguna segera keluar. Aku berteriak kesakitan , lama sampai proses itu selesai.

Setelahnya aku dipindahkan dari ruang bersalin ke ruang perawatan. Kakiku lumpuh, tidak punya kekuatan. Aku dipapah untuk bisa kekamar mandi. Merangkul pundak kanan kiriku dan kaki yang menggantung tak sanggup berpijak di lantai. Demikian kondisiku sampai hari ketiga. Aku belum bertemu anaku, sebabnya sebelum aku bisa berjalan, dokter tidak ijinkan aku masuk ke ruang bayi.

Hari ketiga,tak sabar aku bertemu bayiku.
Dibantu kursi roda oleh suamiku,aku menuju ruangan bayi. Letak ruang bayi agak jauh dari kamar dimana aku dirawat. Untuk sampai kepada bayi harus naik anak tangga yang jumlahnya banyak.
Apa apaan ini!
Berjalan saja susah, apalagi naik anak tangga. Harus aku lalui ,dan aku harus sampai. Setiap naik anak tangga , aku harus berhenti sebentar ke anak tangga berikutnya. Sesekali aku melihat ceceran darah di anak tangga itu...,itu punya ibu lain yang sama sepertiku, penuh pengorbanan untuk bertemu anaknya.
Huuuuh, .... Ya Allah seperti apa wajah anakku.
Sampailah aku di ruangan. Aku bertanya pada dokter dimana box anakku. 
" Nomor tiga belas Bu...!"

Aku tergesa,melihat box nomor tiga belas itu berada di depan pintu, tak jauh dari aku berdiri.

Ya Allah, Subhanalah,Allahu Akbar!
Anaknya item, gemuk, rambutnya agak panjang. Dia tertidur pulas. Hidungnya...aduuuuh pesek. Rambut didekat pipi gembulnya itu tebal. 
Aku terkesima, dan takjub. Seperti melihat emas...yah emas.

Kenapa lengan bajunya hanya sebelah saja dipakai ? Tanyaku dalam hati terjawab setelah melihat selang infus dari belahan jempol tangannya itu yang menghalangi bajunya . Kasihaaan....

Aku mengangkatnya
Assalamu'alaikum anak ibu...
Aku menangis . Air mataku deras.
Aku bisikkan syahadat di kuping kanan dan kirinya.Aku bacakan Fatihah dengan penuh keharuan.
Bayi itu merespon dengan menggeliat. Ingin kutatap matanya, tapi dia segera berpaling ke arah lain.
Haduuuh, besar rasa bersalahku terhadapnya. Seolah dia marah, aku terlambat menengoknya.

Kupeluk erat, ku cium dan kuberi dia ASI . Hilang segala sakit. Malam ini aku menungguinya di atas kursi panjang. Aku tidak tidur semalaman, karna memang kursi itu tak bisa untuk bersandar. 
Semoga letih ini berpahala ya nak....

Aamiin.

BACALAH SEKITARMU

Ketika pikiran mulai tak berimbang. Persepsi sudah disalah arti. Kukira orang paham,namun ternyata sulit mengerti. Berada diatas setir kenda...