Juli 2017, aku sudah merasa hamil. Suami tak buru buru mengiyakan, karna harapan yang selalu dinanti kadang yang datang tamu yang rutin tiap bulan . Makin hari makin yakin dan bersemangat untuk tes kehamilan. Ternyata benar, aku hamil. Awal kehamilan aku merasa tidak nyaman. Tidak selera makan, badan lemes dan selalu minta perhatian lebih.
Diusia kehamilan 2 bulan,perut terasa kencang alasannya karna ada kista. Pemeriksaan sebulan kemudian si kista aman dan tidak membesar.
Usia 6 bulan terdeteksi ada ganguan placenta previa, dipastikan akan mengalami pendarahan. Dokter memberiku rujukan,seandainya pendarahan maka harus ke RSUD. Namun sampai bulan ke tujuh aman aman saja, hanya rasa sakit sepanjang waktu tetap aku rasakan. Bayi menendang nendang adalah momen sangat dinanti, namun bagiku sangat menyiksa. Jika si bayi menendang, aku pringisan kesakitan keluar keringat dingin dan tak bisa duduk nyaman. Ujian praktik siswa SMA aku simak sambil berbaring di kasur UKS. Dokter mengatakan kondisi bayi sudah mapan, tinggal menunggu saat kelahiran. Tidak percaya kandunganku baik baik saja, aku pindah ke bidan lain. Bidan meraba dengan tangannya. Menekan bagian ulu hati dan perut bawah.Mencengangkan, katanya ada dua kepala. Tinggi perutku diukur dan dibilang tidak normal. Tidak mungkin bayi satu tingginya sedemikian.
Aku pindah periksa lagi ke dokter spesialis, dan minta USG, kata dokter tidak kembar.
Satu hari sebelum hpl ,aku mengalami sedikit pendarahan. Apakah ini tanda mau melahirkan??
Kemudian keluar cairan bening, apakah ini ketuban???
Aku periksa ke bidan terdekat,katanya benar cairan itu adalah ketuban merembes. Aku disarankan ke RSUD, agar segera dapat penanganan. Sampai di RSUD, aku disabut para perawat, dokter atau calon dokter yang sedang meneliti tak henti menanyaiku banyak hal sambil mencatat.
Sudah jam 23.00 ,tapi belum juga ada tanda tanda segera melahirkan.Aku juga tidak merasa kesakitan . Mengingat ketuban sudah merebes, maka harus dipercepat bayi keluar. Diberilah obat pacu di saluran infusku. Jam satu dini hari aku mulai kesakitan. Sakitnya luar biasa. Berulang kali aku mengedan,tapi tidak juga keluar bayi.
Sampai pagi, demikian keadaanya. Istighfar dan berteriak tanpa kendali. Ya Allah, saya tidak kuasa menahan sakitnya. Tidak seperti anak pertama dulu, aku hanya menghela nafas dan mengeluh lirih. Kali ini beda. Aku berteriak keras.
Sampai jam 8 pagi, aku sudah puluhan kali mengedan. Dokter praktik silih berganti memberi aba aku mengedan,tapi tak berhasil. Ada dokter yang memintaku untuk memanjat pinggangnya agar aku kuat mengedan, namun tetap saja pertolongannya tak berarti.
Kepala bayi kelihatan,tapi tetap tak mau turun.
Seorang bidan setengah tua memberi komando, panggilkan mbk Yuli. Mbak Yuli itu bidan juga,hanya saja dia lebih berani berspekulasi.
Seorang wanita yang dipanggil Mbk Yuli itu sigap menekan dan mengurut perutku bagian atas dari ulu hati kebawah. Sementara ibu bidan tua itu memainkan gunting melebarkan jalan lahir. Sepertinya semua bekerja,dan tidak mau kelamaan pada tindakan kali ini. Keluarlah si bayi, sambil batuk tersedak tidak bisa menangis. Teriak para bidan, alhamdulillaaah...
Ada yang takbir. Bidan tua itu memanggil suamiku ," pak-pak, lihat!
Satu,dua,tiga,empat, ....."
Dia menghitung,sambil melepas tali pusat yang melilit leher anakku.
Ya Allah, anakku bertarung nyawa dengan lilitan itu. Semakin keras aku mengedan semakin dia ketarik lehernya. Apalagi saat bidan mengurut perutku,pasti anakku sesak sekali bernafas.
Cewek,dengan berat 2,9 kg itu lahir.Tak sempat diazani bapaknya, karna kondisi darurat. Dia harus segera mendapatkan perawatan.
Aku lunglai diatas alas yang basah darah dan keringat itu. Kakiku seperti tidak bertulang.
Bidan Yuli masih menungguiku. Dia menanti ariari bayi yang mestinya menyusul keluar, tapi tidak.
Sudah sepuluh menit, sudah 15menit kok belum keluar. Dimasukan lagi obat pacu di infusku, hingga kemudian aku mengerang kesakitan lagi . Kenapa ini? Kok tidak keluar juga. Bidan Yuli mengambil sarung tangan menyelamkannya ke dalam kantung rahimku, mencari barang yang ditunggu keluar.
"Ada tidak???" Tanya temannya.
"Ada!" Jawab bidan pemberani itu.
Setelah ariari itu keluar, bidan yang lain mengguncang perutku. Mengoyak dengan keras katanya agar darah sisa tak berguna segera keluar. Aku berteriak kesakitan , lama sampai proses itu selesai.
Setelahnya aku dipindahkan dari ruang bersalin ke ruang perawatan. Kakiku lumpuh, tidak punya kekuatan. Aku dipapah untuk bisa kekamar mandi. Merangkul pundak kanan kiriku dan kaki yang menggantung tak sanggup berpijak di lantai. Demikian kondisiku sampai hari ketiga. Aku belum bertemu anaku, sebabnya sebelum aku bisa berjalan, dokter tidak ijinkan aku masuk ke ruang bayi.
Hari ketiga,tak sabar aku bertemu bayiku.
Dibantu kursi roda oleh suamiku,aku menuju ruangan bayi. Letak ruang bayi agak jauh dari kamar dimana aku dirawat. Untuk sampai kepada bayi harus naik anak tangga yang jumlahnya banyak.
Apa apaan ini!
Berjalan saja susah, apalagi naik anak tangga. Harus aku lalui ,dan aku harus sampai. Setiap naik anak tangga , aku harus berhenti sebentar ke anak tangga berikutnya. Sesekali aku melihat ceceran darah di anak tangga itu...,itu punya ibu lain yang sama sepertiku, penuh pengorbanan untuk bertemu anaknya.
Huuuuh, .... Ya Allah seperti apa wajah anakku.
Sampailah aku di ruangan. Aku bertanya pada dokter dimana box anakku.
" Nomor tiga belas Bu...!"
Aku tergesa,melihat box nomor tiga belas itu berada di depan pintu, tak jauh dari aku berdiri.
Ya Allah, Subhanalah,Allahu Akbar!
Anaknya item, gemuk, rambutnya agak panjang. Dia tertidur pulas. Hidungnya...aduuuuh pesek. Rambut didekat pipi gembulnya itu tebal.
Aku terkesima, dan takjub. Seperti melihat emas...yah emas.
Kenapa lengan bajunya hanya sebelah saja dipakai ? Tanyaku dalam hati terjawab setelah melihat selang infus dari belahan jempol tangannya itu yang menghalangi bajunya . Kasihaaan....
Aku mengangkatnya
Assalamu'alaikum anak ibu...
Aku menangis . Air mataku deras.
Aku bisikkan syahadat di kuping kanan dan kirinya.Aku bacakan Fatihah dengan penuh keharuan.
Bayi itu merespon dengan menggeliat. Ingin kutatap matanya, tapi dia segera berpaling ke arah lain.
Haduuuh, besar rasa bersalahku terhadapnya. Seolah dia marah, aku terlambat menengoknya.
Kupeluk erat, ku cium dan kuberi dia ASI . Hilang segala sakit. Malam ini aku menungguinya di atas kursi panjang. Aku tidak tidur semalaman, karna memang kursi itu tak bisa untuk bersandar.
Semoga letih ini berpahala ya nak....
Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar