Kamis, 22 Oktober 2020

Cepat,Cepat

Ujian semester dimulai. Hujan gerimis mengiringi. Sebagian anak sudah terlihat setengah basah pakaiannya. Dari rumah lupa tidak memakai mantol atau memang sengaja tidak memakai mantol. alasannya mungkin repot atau kurang keren.
Sudah semalam hujan tidak reda. Mendung ,gelap seolah belum ada tanda tanda berhenti. Keadaannya dingin , basah dan remang tanpa cahaya merah dilangit. Air sudah menggenang dihalaman sekolah . Semakin lama tampak hampir menelan kursi taman dibawah pohon beringin besar. Pohon itu ditengah - tengah ruang - ruang kelas yang berdiri melingkar. Tingginya kursi taman tak lebih daripada teras kelas. Selama kursi taman itu masih tampak, maka air tak akan masuk ruang kelas. Tiba- tiba kursi taman dari semen permanen itu benar -benar tenggelam, sementara hujan belum juga reda. Para siswa tetap fokus pada pekerjaan mereka, hanya sesekali menengok keluar dan bilang " wah banjir...".
-----
Wah...., air itu, air bergerak naik, meleber dan melebar, sampailah ke teras kelas. 
Guru pengawas keluar dan saling bertatapan antar ruang ujian. 
Satu persatu guru mulai lepas sepatu. Berteriak meminta siswa segera selesaikan ujiannya. Siswa sudah mulai gaduh, tapi soal belum semua dikerjakan, mereka tetap ingin bertahan menyelesaikan. Daun daun kering dari pohon beringin mulai berlayar bebas diatas air yang kian naik di dalam kelas. Rupanya tak bisa disepelekan. Inilah banjir. Guru segera menyelamatkan kertas LJK siswa. Meminta paksa mereka keluar dan segera pulang. Anak anak berhamburan, namun tak bisa berjalan cepat. Air sudah setinggi paha . Di lokasi parkir,ratusan motor siswa telah terendam. Mendadak truk besar melintas pelan didepan pagar sekolah. Gerak truk menekan air hingga menjebol pagar bumi sekolah. Anak anak berteriak histeris, dan banyak yang menangis. Guru bergotong royong mendorong motor keluar pagar sekolah ,hingga menuju dataran yang lebih tinggi. Mesin- Mesin motor telah mati,tak bisa distarter. Petugas dari Polsek ikut membantu menenangkan anak anak, dengan membawanya dengan aman ke kantor Polsek,dan bale desa setempat. Mereka akan  menanti orang tua menjemput ke balai desa.
Banjir itu nyata dialami,cepat sekali. Setelah motor siswa dan pemiliknya aman, para guru dan karyawan meyelamatkan buku buku dan alat alat kantor. Semua diangkat ke atas meja. Masih bisa diselamatkan. Mereka saling membantu,jangan sampai ada barang berharga yang terambah air. Ada yang diangkat sampai atas lemari. Printer,laptop,dan alat alat elektronik telah berada di dalam lemari yang tinggi. Air sudah sampai ke perut,namun guru tetap belum beranjak. Kepala sekolah tidak ditempat.Kondisi banjir sudah di koordinasikan,dan segera dikonsultasikan dengan dinas pendidikan kabupaten. Kepala Sekolah memerintahkan agar guru karyawan tidak meninggalkan kantor sebelum ada kepastian ijin libur belajar dari dinas. Dari instruksi tersebut, guru tetap tenang di dalam kantor sekalipun badan sudah terendam setengah. Mereka naik keatas meja,sambil menunggu keputusan kepala sekolah. Setengah jam kemudian, kondisi makin memburuk. Air setinggi dada, guru harus keluar menyelamatkan diri. Mereka pulang dengan cerita hal baru yang tidak pernah diduga sebelumnya. Hujan sore hingga pagi tidak berhenti. Kabar dari orang orang sekitar sekolah tentang kondisi sekolah semakin menghawatirkan. Meja sudah berjungkil balik dan hanyut berpindah dari tempatnya. Almari ada yang roboh. Buku buku perpustakaan, file guru,buku pelajaran dan alat elektronik tak bisa sembunyi dari serangan air banjir itu. Sekolah sperti mati....,sepi, tergenang air. Entah berapa lama kami butuh waktu untuk bangkit dan pulih.
#cerita badai cempaka -2017#
#sma-ku rawanbanjir #


3 komentar:

  1. banjiir... Sejarah gunungkidul prtma kalinya... 2017

    BalasHapus
  2. Masya Allah, Bencana melanda. Guru tetap pahlawan tanpa tanda jasa, membantu siswa dan sekolah menghadapi dengan ikhlas dan gotong royong. Subhànallah.

    BalasHapus
  3. Semoga tidak berulang karna pasca banjir itu kami butuh waktu dan tenaga ekstra untuk berbenah.

    BalasHapus

BACALAH SEKITARMU

Ketika pikiran mulai tak berimbang. Persepsi sudah disalah arti. Kukira orang paham,namun ternyata sulit mengerti. Berada diatas setir kenda...