
Jikalau petani selalu memikirkan ladangnya, pedagang memikirkan labanya, Bu Darmani sebagai pendidik selalu memikirkan perkembangan anak didiknya. Apa yang terjadi di sekolah pada hari ini selalu dibawanya pulang dan menjadi bahan renungan untuk sebuah keputusan atau evaluasi. 5 tahun menjadi guru tidak lah waktu yang singkat. Menjadi guru honor yang tak pernah minta digaji, tapi karna sebuah pengabdian.
Guru adalah pilihan hidupnya, alasannya adalah dia bisa beribadah lebih banyak kepada Sang Pencipta. Bagaimana tidak ? Menjadi guru itu banyak memberi nasihat dan keteladanan. Berdakwah bukanlah panggilan kewajiban, namun sudah menjadi hasrat hati setiap pagi hingga menjelang sore hari. Lelah sepulang mengajar di sore hari dianggapnya sebagai penghapus dosa . Dia ingat pada sebuah nasihat bahwa setiap tindakan selalu di pertimbangkan matang- matang. Jikalau guru tidak hati- hati dalam berbicara, bersikap dan menghormati orang lain, maka tidak akan berhasil dalam mengajarkan keteladanan.
Ketertarikannya pada perkembangan anak dan variasi karakter yang mereka miliki,sangat jelas terlihat pada sikapnya . Dalam menyelesaikan persoalan peserta didik dia tak pernah luput dan menghindar. Terlebih ketika karakter “ ati atos” para siswa itu bisa dia lunakkan, itulah puncak dimana dia merasa berarti. Setiap menemuai siswa baru, semua dianggap menjadi teka-teki yang harus dipecahkan . Dia dibesarkan di lingkungan agamis, yang percaya bahwa siapa yang menanam pasti akan memanen. Begitu pun dengan profesinya. Setiap kali hendak menyerah karna keadaan ekonomi , orang tualah yang memaksanya untuk bangkit dan bersabar. Tuhan pasti memberi jalan kepada setiap hambanya yang berusaha.
Saat ini dia berada di kelas. Berpuluh pasang mata siswa menatapnya. Menurut pengakuan siswanya , Bu Darmani kalau mengajar suaranya lirih dan lemah. Itulah yang menyebabkan para siswa selalu berkonsentrasi memasang telinga dan mata fokus pada gerakan- gerakan bibirnya. Cerita – cerita yang ia sampaikan kepada siswa begitu penuh makna. Jika ceritanya sedih ,kadang kadang sampai membuat mata rembes. Suara lirih dan lemah itu malah menjadi sebuah kesempurnaan ceritanya.
Salah satu anak bermasalah telah menarik perhatiannya . Dia adalah Laila. Siswa itu berparas cantik, tinggi tegap tubuhnya. Bola matanya indah , dan bibir yang kemerahan. Di akhir kelas tiga SMA , dia banyak tidak masuk sekolah. Alasan sakit atau bahkan tanpa keterangan. Saat di kelas pandangannya kosong dan sering menangis. Bu Darmani tidak tergesa dalam menengani anak tersebut, sebelum cukup penyelidikan.
Setelah jam Pelajaran Bu Darmani berakhir, siswa itu menangis di UKS. Banyak prasangka dari guru bahwa berada di UKS adalah dalam rangka menghindari mata pelajaran kimia . Rupanya setiap hari yang sama dan jam yang sama dia selalu menagis dan ingin masuk UKS. Kesimpulan sementara Kimia adalah mata pelajaran yang menakutkan. Maka langkah awal yang bisa Bu Darmani lakukan adalah mengajak berdiskusi guru kimia terkait apa yang harus diubah agar dia mau mengikuti pelajaran kimia. Pendekatan dari guru kimia sudah seminggu dilakukan, namun belum begitu terlihat perubahan pada si anak. Maka Bu Darmani semakin penasaran, “jangan jangan bukan kimia? “ muncul pertanyaan itu dalam hati. Apakah karna mata pelajaran sebelumnya ?
Sekarang waktunya Bu Darmani mendekatinya di UKS. Air matanya Laila terus mengalir. Teman- temannya dengan setia menunggu dan memberinya semangat. Ada yang bertanya padanya kenapa menangis?, tapi tak satupun mereka peroleh jawaban. Maka semua anak yang ada di UKS tersebut di suruh keluar oleh Bu Darmani.
Mulailah Bu Darmani menyelami hati dan memeriksa setiap air mata Laila yang menetes.
“ Nak , kenapa menangis ?” tanya bu Darmani dengan lembut dan hati- hati.
“ Takut buk..” Jawabnya sambil tes tes.... air dari kedua matanya keluar.
“ Siapa yang kamu takutkan ?” dalam hati Bu Darmani sudah terbersit guru kimia.
“ Apakah kau takut sama guru kimia ?”, dia menggeleng.
Pertanyaan Bu Darmani sudah banyak mengalir, tapi belum juga ditemukan jawabannya. Berulangkali hanya menjawab takut. Kepada siapa ? dia hanya menggeleng.
Bu Darmani ingin kondisi anak tidak berlarut larut. Dia ambil daftar nama nama Guru, dan hendak membacakan nama – nama itu di depan Laila.
Mulai dari kepala sekolah apakah kau takut ? dia menggeleng.
Guru bahasa Indonesia ? dia tidak takut.
Guru matematika, biologi, kimia,fisika, olahraga ? dan semua nama guru mata pelajaran itu disebutkan hingga kode 15 semua nama tidak dia takuti. Sampailah di kode 16 yaitu nama Ibu Darmani. Apakah kau takut ? Laila mengangguk. Air matanya menetes deras. Bu Darmani memeluk Laila sambil tersenyum dan mencium keningnya. Namun bocah itu semakin menangis. Kini Bu Darmani duduk lebih santai di dekatnya.
“ Nak, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Setiap orang pernah punya masa lalu. Ada yang gelap dan ada yang gelap sekali. Tetapi Allah melarang kita berputus asa . Jika kita sudah takut akan dosa , maka segera bertobat. Allah pasti mengampuni. Tangis Laila reda. Sesekali dia menatap Bu Darmani dan sesekali mengangguk.
Ketakutannya pada bu Darmani bukan karena wajahnya, bicaranya atau jabatannya sebagai guru. Namun ketakutannya itu adalah karena Bu Darmani yang sering menceritakan balasan dia khirat bagi para pendosa terlebih pezina. Tangis Laila seperti sebuah kotak rahasia yang sulit diungkap isinya. Namun bagi Bu Darmani, dia temukan kunci kotak itu. Kini sudah terbuka dan diketahui isinya yakni masa lalu Laila yang selalu membayanginya hingga dia selalu merasa takut. Semoga dengan terbukanya hati Laila oleh seorang pembaca hati, maka Laila akan bangkit dan dapat menyelesaikan pendidikan tingkat atasnya. Sejak itu Laila tidak lagi berwajah bingung. Siang hari di dekat mushola wajahnya sudah basah dengan air wudhu,dan senyumnya memperindah suasana hati Ibu Darmani.
***
Bu Darmani sedang sibuk. Menyiapkan berkas yang harus dia susulkan ke Dinas Pendidikan. Rupanya dia kehilangan kesempatan untuk pengangkatan pegawai masal tahun ini. Wajahnya begitu memelas , namun sikap tawakal sudah menguasai hatinya. Berkas yang ia susulkan sudah tak bisa memperbaiki nasipnya. Telpon dari teman- teman yang beruntung berulang kali dia angkat. Semua menanyakan nasipnya. Namun Bu Darmani menjawabnya dengan datar. Dia sudah paham bagaimana Allah menakar rejeki seseorang. Pasti tidak akan salah.
***
Di tahun berikutnya kesempatan baik datang kepada Bu Darmani ketika ada pembukaan formasi CPNS. Dia mencoba mendaftar . Hari yang ditentukan dia mengikuti ujian. Heran dan terkesima dia melihat soal sebanyak 200 butir itu. Seolah dimudahkan, semua terjawab dengan tepat. Khayalan Bu Darmani begitu tinggi ketika soal demi sioal berhasil ia takhlukan. Hujan deras mengiringi kepulangannya. Bibirnya menyanyi di sepanjang jalan. Tidaklah dia rasakan kedinginan sekalipun badanya basah kuyup. Optimis dalam hatinya, namun tetap berusaha menyembunyikan. Karna semua perlu campur tangan Tuhan lewat keridhaanNya.Tak lama berselang, dengan cepat pula dia dapat pengumuman lolos tes tersebut. Allah pasti memberi keadilan. Satu yang masih mengganjal di hati, soal soal yang keluar dalam tes itu tak pernah ada dalam SKS mata kuliah Bu Darmani. Kesediaan Bu Darmani belajar dan mengajar mata pelajaran apapun, memang sudah jadi liku liku jalan untuk dapatkan banyak pengetahuan. Seolah semua telah di atas kertas putih dan ditulis dengan tinta emas.Terlipat rapi dalam sebuah kotak , dan Tuhanlah pemilik kotak rahasia itu.
Setiap manusia pasti punya cita- cita . Diperlukan ikhtiar dalam mencapainya. Kadang – kadang terjatuh dalam kegagalan. Tidak perlu berlari untuk menghindari kegagalan, tetapi cukup berusaha saja untuk bangkit. Dalam perjalanan meraih cita cita yang dibutuhkan adalah sikap Optimis. Keyakinan bahwa Allah Ar Rahman dan Ar Rahim akan menjadikan kita berusaha menjadi hamba terbaiknya. Dia tidak akan membiarkan kita dalam kesulitan yang panjang karena Dia lah sebaik- baik penolong.
#kuat_asa#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar